December 5, 2020
RECENT POST

Sign in

Sign up

Persamaan Snape dan Polisi

By on February 12, 2019 0 303 Views

Oleh: Harry F. Darmawan

Penggemar film bertajuk Harry Potter tentu tak asing dengan sosok Profesor Severus Snape. Ya, pria itu merupakan sosok yang dinilai dingin dan misterius.

Ia juga kerap berperilaku kasar kepada Harry, sang tokoh utama. Snape selalu memperlihatkan kalau dirinya begitu benci kepada Harry. Snape pun kerap membandingkan Harry dengan kepribadian ayahnya, James.

Dalam beberapa potongan film, kita tahu bahwa Snape melakukan itu karena ia terbakar api cemburu. Ia mencintai ibu Harry, Lily, meskipun pada akhirnya Lily menikahi James.

Dalam film tersebut juga, Snape selalu berseberangan dengan Kepala Sekolah Sihir Hogwarts sekaligus pelindung Harry, Albus Dumbledore. Snape pun terlihat mengistimewakan Keluarga Malvoy serta dianggap berkomplot dengan “Dia-Yang-Tak-Boleh-Disebut-Namanya” atau Voldemort. Kejahatan terbesar yang pernah dilakukan Snape adalah meng-aveda-kadavra-kan Dumbledore.

Hal sesungguhnya baru terungkap setelah Snape wafat. Sebelumnya, dalam kondisi sekarat, Snape meminta Harry mengambil air matanya untuk bisa melihat ke masa lalunya. Setetes air mata itu membawa Harry Potter, dan kita semua, menelusuri apa yang sebenarnya terjadi di balik kisah Lily, James, dan Snape.

POLISI DAN KEBENARAN

Sejak beberapa tahun silam, image gampang disuap, kerjanya tak beres dan dekat dengan uang melekat di dalam tubuh Polri. Hasil uang tilang dipakai untuk keperluan pribadi, tembak SIM, bayar dulu lalu dilayani, dan masih banyak lagi penilaian miring yang kerap dialamatkan masyarakat kepada personil Polri.

Sama seperti Snape, polisi juga sebenarnya tidak seburuk seperti image yang dicuatkan masyarakat. Mungkin bila setetes air mata polisi bisa membawa masyarakat menelusuri seluk-beluk kehidupannya, bisa saja penilaian itu berubah.

Namun tentu saja, itu tak mungkin. Yang mungkin dilakukan oleh kepolisian untuk mengubah pandangan buruk tersebut ialah dengan kerja nyata dan pelayanan yang optimal terhadap masyarakat.

HUMANIS, ANTI NARKOBA, SAMPAI ANTI MAFIA BOLA

Pentingnya memperbaiki citra Polri di mata masyarakat sudah disadari betul oleh para petinggi kepolisian. Menjadi penting karena dengan kepercayaan masyarakat terhadap Polri yang tinggi, bisa berakibat pada semakin kondusifnya keamanan wilayah dalam negeri.

Untuk mencapai hal tersebut, sejak didapuk menjadi Kapolri oleh Presiden Joko Widodo pada 13 Juli 2016, Jendral Pol. Tito Karnavian giat menggelorakan program perbaikan citra Polri, yang diiringi dengan program tepat guna dan tepat sasaran lainnya.

Visi itu kemudian dituangkan ke dalam program PROMOTER (Profesional, Modern dan Terpercaya). Program ini menjadi inang bagi program-program yang berkaitan dengan pendekatan diri kepada masyarakat, optimalisasi pelayanan dan kinerja Polri, serta sinergitas lintas instansi.

Polisi Humanis menjadi salah satu jargon utama program ini. Menciptakan polisi yang humanis tentu akan mudah diterima di lingkungan masyarakat. Pada akhirnya, polisi bisa semakin dekat dengan masyarakatnya.

Di Kalimantan Timur, personil Polda Kaltim mengejewantahkan jargon ini lewat berbagai aksi sosial, juga beragam kegiatan lainnya. Aksi sosial ini berupa bhakti sosial, anjangsana, pelaksanaan pemberian tali asih, kerja bakti merenovasi rumah ibadah, dan yang terbaru yakni Jumat Berbagi.

Jumat Berbagi merupakan sebuah kegiatan yang diisi dengan menyambangi rumah masyarakat yang dinilai membutuhkan bantuan karena menyandang masalah kesejahteraan sosial.

Dalam program tersebut, semua personil wajib dilibatkan, bahkan sampai tingkat Polres dan Polsek. Para pejabat utama Polda Kaltim, dan Polres serta Polsek jajarannya wajib turun langsung menemui warga yang disasar untuk menerima bantuan di wilayah hukum masing-masing.

Dengan menjadi humanis, citra polisi yang dulu dikenal acuh pada masyarakat, fungsi pelayanan dan pengayoman masyarakatnya belum optimal, sampai arogan itu perlahan sirna.

Kini polisi dinilai menjadi sosok yang mampu melindungi masyarakat dengan keahliannya. Mampu melayani masyarakat lewat keramahan, keuletan, ketelitian dan kesabarannya. Juga mampu mengayomi masyarakat lewat kepedulian sosial yang disalurkan langsung sejak beberapa tahun terakhir.

Polisi juga merupakan garda terdepan pada aksi pemberantasan narkoba. Barang haram yang menjadi musuh bersama masyarakat ini terus diburu peredarannya dari tahun ke tahun.

Tahun 2018 lalu saja, Polda Kaltim berhasil menuntaskan 1.268 kasus narkoba. Jumlah itu mengalami penurunan dibanding tahun sebelumnya, yakni 1.486 kasus. Ini merupakan indikasi keberhasilan Polda Kaltim dalam meredam masifnya peredaran narkoba di Kaltim.

Langkah-langkah Polri tak berhenti sampai di situ. Polri kini juga terlibat dalam aksi pemberantasan mafia bola lewat pembentukan Satgas Anti Mafia Bola. Satgas yang dibentuk oleh Kapolri Jendral Pol. Tito Karnavian pada Desember 2018 tersebut bertugas untuk mengusut tuntas setiap kasus kecurangan dalam sepakbola Indonesia.

Pengaturan skor, suap-menyuap wasit, lobi-lobi juara atau promosi ke kasta tertinggi sepakbola Indonesia yang melibatkan berbagai unsur mulai pengurus PSSI, pengurus klub sepakbola sampai pemain menjadi perhatian Satgas Anti Mafia Bola.

Sampai saat ini, sudah banyak pengurus PSSI yang ditetapkan sebagai tersangka oleh Tim Satgas. Bahkan, Pelaksana Tugas Ketua Umum PSSI Joko Driyono juga ditetapkan sebagai tersangka akibat dugaan pengrusakan berkas dan dokumen PSSI yang ada di ruang kerjanya.

***

Dari sekian banyak hal yang sudah dilakukan oleh Polri, sedikit banyak memiliki kemiripan dengan kisah hidup Profesor Snape. Dalam film tersebut, pada akhirnya Snape berhasil menyelamatkan nyawa Harry Potter dengan mengelabui Voldemort.

Kita pun berhak menaruh harapan pada Polri agar bisa menyelamatkan bangsa ini dari ancaman rusaknya kondusivitas, ancaman narkoba dan tindak kriminal lainnya. [*]

  Artikel
Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *