December 2, 2020
RECENT POST

Sign in

Sign up

  • Home
  • Artikel
  • Kultur MacGyver dalam Mereformasi SDM Polri

Kultur MacGyver dalam Mereformasi SDM Polri

By on May 10, 2019 0 265 Views

Oleh: Harry F. Darmawan

BEBERAPA tahun terakhir, performa Polri meningkat pesat. Sejumlah hasil survei mengamini pernyataan itu. Sebut saja hasil survei Markplus. Dirilis awal Februari 2019, survei menunjukkan indeks kepuasan dan kepercayaan terhadap institusi kepolisian mencapai masing-masing 74,46% dan 80,37%.

Survei terhadap 34 Kepolisian Daerah (Polda) dan 461 Kepolisian Resor (Polres) selama September-November 2018 itu melibatkan 29.250 responden.

Kepuasan dan kepercayaan publik terhadap institusi Polri itu mencakup empat aspek, yakni; kultur, kinerja, penanganan isu terkini, dan manajemen media. Penilaian positif tersebut tentu tidak lepas dari pembenahan dan perbaikan internal Korps Bhayangkara itu.

Di bawah kepemimpinan Jenderal Pol. Tito Karnavian yang dilantik sebagai Kapolri oleh Presiden Joko Widodo pada 13 Juli 2016 silam, masyarakat menaruh harapan sekaligus kepercayaan besar.

Publik berharap korps baju cokelat itu dapat menjalankan fungsi dan perannya dalam menegakkan hukum-keadilan, mengayomi warga dari gangguan kamtibmas, dan melayani masyarakat secara profesional dan optimal. Untuk memenuhi harapan itulah, Kapolri mengusung visi Polri Promoter (Profesional, Modern dan Terpercaya).

Kunci mewujudkan visi tersebut yakni reformasi SDM Polri. Upaya menciptakan SDM Polri yang profesional, ditempuh dengan meningkatkan kompetensi para personelnya melalui pendidikan atau pelatihan dan penerapan prosedur baku yang terukur dalam pelaksanaan tugas dan fungsi kepolisian.

SDM profesional Polri harus mampu mengoperasikan sistem layanan masyarakat dan penegakan hukum yang ditopang alat material khusus (almatsus) dan alat peralatan keamanan (alpakam) yang semakin modern dan canggih.

Di tengah perkembangan teknologi yang menuntut semuanya serba canggih, yang jgua harus diingat adalah bagaimana setiap personel Polri bisa tidak “dimanjakan”. Unsur basis kemampuan non-teknologi juga harus jadi aspek yang perlu ditingkatkan.

KULTUR MACGYVER

Eskalasi kemampuan non-teknologi ini mungkin bisa dilihat dengan mengadopsi kultur MacGyver. MacGyver merupakan serial televisi yang mengisahkan seorang tokoh jenius bernama Angus MacGyver.

Berbekal pemahamannya pada ilmu fisika dan kimia, serta pisau lipat Swiss Army miliknya, ia bisa memecahkan berbagai masalah yang menimpanya di setiap episode.

MacGyver adalah seorang problem solver yang bekerja dalam segala keterbatasan dan ancaman, menggunakan segala sesuatu yang bisa ia temukan di sekelilingnya. Namun masalah apapun bisa ia pecahkan dengan biaya nol.

Richard Dean Anderson pemeran Angus MacGyver.

Kultur MacGyver ini akan sangat membantu Polri dalam segala hal. Kemampuan berpikir cerdik, efektif dan efisien ini dapat diaplikasikan ke dalam bentuk kegiatan apapun.

Jadi alatnya sudah dicanggihkan, manusianya juga harus bisa berpikir canggih. Canggih dalam artian dapat menyiasati segala kekurangan, hambatan atau masalah dengan cepat, tepat dan efektif. [*]

  Artikel
Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *