December 1, 2020
RECENT POST

Sign in

Sign up

Padamkan Bara di Papua

By on September 26, 2019 0 165 Views

Oleh: Harry F. Darmawan

RENTETAN gesekan di Papua baru-baru ini membuat saya bergidik ngeri. Seperti diketahui, peristiwa Wamena pada 23 September 2019 merupakan rentetan kejadian yang terjadi sebelumnya di beberapa kota di Papua, seperti Manokwari, Sorong, Fakfak, dan Jayapura (19-21 September 2019) yang ditengarai sebagai reaksi terhadap ujaran kebencian bernada rasial terhadap mahasiswa Papua di Surabaya, Jumat (16/8/2019).

Hate speech bernada SARA itu tanpa disadari telah menimbulkan reaksi meluas sehingga eskalasinya tak terbendung. Di luar dugaan, ujaran rasial itu kemudian berkolaborasi dengan masalah Papua seperti bara yang memperoleh momentumnya untuk menyala.

Bara permasalahan Papua yang diakibatkan soal kesejarahan penyatuan Papua dengan Republik Indonesia, yang masih saja dipersoalkan sebagian masyarakat Papua, hingga soal ketidakadilan, masalah HAM, ketimpangan, dan jurang kesenjangan sosial. Lalu, soal ekonomi dan budaya antara orang asli Papua dan masyarakat pendatang juga turut ambil bagian.

Ledakan emosi dan kemarahan masyarakat Papua di Wamena itu telah menimbulkan kerusakan fisik dan psikis. Bahkan, disertai eksodus besar-besaran masyarakat Wamena keluar Papua, meskipun sebagian ada juga yang mengungsi di dalam Papua, terutama di Jayapura, Timika, dan Merauke.

Ekses dari kejadian ini bukan saja menimbulkan trauma kepada masyarakat pendatang, melainkan juga terhadap orang asli Papua yang sudah mengalami trauma berkepanjangan sejak wilayah ini menyatu dengan negara RI.

Dari perspektif antropologi, meskipun orang asli Papua terdiri atas 250 lebih suku bangsa dengan bahasa daerah dan budaya yang berbeda-beda, tapi ada nilai-nilai kesamaan yang menyatukan mereka. Kesamaan itu yang kita temui tatkala mereka menghadapi ujaran kebencian rasialisme.

NARASI TEPAT GUNA

Disadari atau tidak, kita yang lahir dan tumbuh di luar Papua gagal memahami saudara kita yang lahir dan tumbuh di sana. Kita bisa berkaca dari narasi yang kita kembangkan untuk meredam kecamuk di Bumi Cenderawasih.

Narasi yang kita kembangkan berdasarkan pengalaman kita terhadap mereka bukan berdasarkan pengalaman orang Papua, melainkan justru imajinasi dan pengalaman kita. Karena kita gagal paham, dengan serta-merta secara sumir kita berpendapat bahwa eksodus besar-besaran dari Wamena hendak digiring pada logika mempertentangkan adanya perbedaan antara orang Papua versus pendatang.

Sama halnya isu rasialisme dibelokkan pada soal referendum. Dengan pembelokan isu menjadi justifikasi terhadap pengalaman dan imajinasi kita, sedangkan kita mengabaikan imajinasi dan pengalaman orang Papua.  

Dengan latar ini, pertanyaannya ialah bagaimana pemulihan di Papua mesti dilakukan. Pemulihan yang dilakukan ialah meletakkan imajinasi dan pengalaman orang Papua tentang dirinya sehingga bagaimana peranan dan fungsi Papua dalam keindonesiaan. Artinya, selama ini kita menuntut bahwa Papua mengikuti kita, tapi kita tidak pernah mau mengikuti Papua. Akibatnya, kekerasan dan diskriminasi terus dilestarikan.

Maka dari itu, dialog yang konstruktif dengan masyarakat Papua perlu diintensifkan untuk menyelesaikan bara permasalahan yang sudah bertahun-tahun tidak pernah tuntas.

Dialog yang konstruktif ialah mengubah diri kita menjadi Papua sehingga kita dapat memahami keinginan dan aspirasi mereka. Dengan dialog itu, menjadikan Papua dalam keindonesiaan dan sebaliknya sehingga terjadi saling pengertian dan pemahaman dengan mengemban narasi-narasi positif untuk Papua.

Terkait dengan hal itu, pemerintah perlu mengintensifkan pendekatan berbasis kemanusiaan. Pendekatan berbasis kemanusiaan dimulai dengan komunikasi yang konstruktif untuk membangun sikap saling percaya dan memahami antara pemerintah dan stakeholders terkait dan strategis.

Dialog kemanusiaan dapat dilakukan dengan tiga pendekatan. Tiga pendekatan itu ialah reflektif mengevaluasi apa saja yang telah kita lakukan terhadap Papua. Kemudian korektif, memeriksa apa saja kesalahan dan kekeliruan yang selama ini telah kita lakukan di Papua. Yang terakhir ada rekonstruksi apa yang kita hendak lakukan terhadap Papua menuju pemulihan Papua.

BUTUH AKSI NYATA

Pemulihan Papua bukan saja mencakup soal keamanan, ketertiban, dan kondusivitas, melainkan juga mencakup dialog yang konstruktif untuk memadamkan bara permasalahan Papua yang menghambat proses kehidupan berbangsa dan bernegara, seperti yang sudah disebutkan di atas.

Pemulihan keamanan dan ketertiban pasca kasus Wamena menjadi prioritas jangka pendek. Namun, tuntutan dialog yang konstruktif guna penyelesaian soal Papua untuk jangka panjang sangat mendesak menjadi agenda yang tak bisa dikesampingkan.

Dengan kata lain, pemulihan keamanan dan ketertiban Papua akibat ujaran kebencian yang bernada rasialisme telah menimbulkan ekskalasi konflik yang luas merupakan premis minor.

Sebaliknya, pemulihan menuju penyelesaian bara persoalan Papua selama 56 tahun Papua menyatu dengan RI sebagai premis mayor mesti dituntaskan penyelesaiannya. Butuh aksi nyata karena hal ini menyangkut eksistensi dan keberlanjutan NKRI.

Upaya menyelesaikan masalah Papua harus melibatkan semua pihak. Menata ulang lanskap masalah Papua merupakan keharusan. Itu karena kasus ujaran kebencian bernada rasialisme telah menjadi amunisi yang menyatukan mereka sehingga menunjukkan solidaritas dan soliditas orang Papua.

Dalam rangka pemadaman bara tersebut, Polda Kaltim telah melakukan beberapa upaya. Meski tidak berbasis di Papua dan bukan otoritas hukum di wilayah tersebut, jajaran kepolisian yang dikomandoi oleh Irjen Pol. Drs. Priyo Widyanto, MM itu saya lihat kerap melaksanakan berbagai agenda menuju Papua damai.

Dalam premis minor (pemulihan keamanan dan kondusivitas), Polda Kaltim tercatat sudah dua kali mengirimkan personel Brimob ke Papua. Yang pertama Polda Kaltim mengutus satu Satuan Setingkat Kompi (SSK) yang berisi 100 personel Brimob pada Rabu (21/8/2019). Sedangkan yang kedua, Polda Kaltim mengirim satu Batalyon Brimob pada Kamis (29/8/2019).

BKO: Pelepasan pasukan Brimob Polda Kaltim yang ditugaskan mengamankan Papua pada Rabu (21/8/2019).

Soal premis mayor, Polda Kaltim punya dua cara membangun narasi kebangsaan dan kedamaian Papua, yakni online (social media) dan pertemuan langsung dengan orang asli Papua yang tinggal di wilayah Kaltim.

Di social media milik Polda Kaltim, mereka gencar membangun berbagai narasi yang bernada persatuan, persaudaraan dengan Papua dan mendorong gencatan senjata di Papua.

Unggahan di akun social media Instagram Polda Kaltim.

Upaya lainnnya yaitu Polda Kaltim melalui Polres Balikpapan menggelar silaturahmi sekaligus dengar pendapat bersama Forkopimda Kota Balikpapan, tokoh agama, tokoh adat dan mahasiswa Papua yang tinggal di Balikpapan, pada Senin (9/9/2019).

PEDULI: Kapolres Balikpapan AKBP Wiwin Firta (kanan) saat bersilaturahmi dengan mahasiswa Papua yang tinggal di Balikpapan.

Merebaknya isu di media sosial tentang ajakan dari kelompok tertentu kepada mahasiswa Papua yang mengeyam pendidikan di luar Papua untuk kembali ke tanah Papua secara eksplisit pun terbantahkan.

Paguyuban Papua Kota Balikpapan pada silaturahmi tersebut menegaskan tujuan mereka ke Balikpapan untuk bekerja, belajar, serta mencari hal atau pengalaman yang baru.

Komitmen mahasiswa Papua yang ingin tetap melanjutkan studinya di Kaltim.

Kapolda Kaltim Irjen Pol. Drs. Priyo Widyanto, MM turut menegaskan bahwa tidak ada alasan mereka untuk kembali ke Papua. Karena di wilayah Indonesia, khususnya Kaltim, mereka disambut baik dan kondusivitas tetap terjaga.

“Tidak ada alasan Papua pisah dari NKRI, karena Papua adalah Indonesia dan mereka tidak mau itu, sudah ada kenyamanan di sini,” tegas Irjen Pol. Priyo saat itu.

TEPIS ISU: Kapolda Kaltim irjen Pol. Priyo Widyanto, MM saat menghadiri gelaran silaturahmi dengan berbagai elemen masyarakat di Kaltim.

***

Dengan seluruh upaya yang sudah dilaksanakan oleh berbagai pihak, tentu saya berharap bara di Papua segera padam. Dengan pulihnya Papua, maka Indonesia merdeka dari ancaman perpecahan. [*]

  Artikel
Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *