November 30, 2020
RECENT POST

Sign in

Sign up

  • Home
  • Artikel
  • Melek Teknologi Tak Berarti Aman dari Cyber Crime

Melek Teknologi Tak Berarti Aman dari Cyber Crime

By on May 15, 2020 0 62 Views

Oleh: Harry F. Darmawan

SIANG bolong sekitar pukul 14.00 pada Selasa 12 Mei kemarin, kakak sepupu saya keluar dari kamarnya sambil marah-marah. Pemandangan ini memang bukan hal baru bagi saya, karena selain rumah kami bersebelahan, beliau memang orang yang gampang tersulut emosinya.

Tapi, kali ini sepertinya ada yang berbeda. Saya pun memberanikan diri menanyakan ada apa gerangan yang membuatnya emosi berapi-api seperti itu. Dia pun bercerita bahwa ia baru saja kena tipu dengan modus operandi jual-beli sepeda motor online melalui marketplace Facebook.

Ia menceritakan kronologi dari hulu sampai hilir, mulai awal proses negosiasi harga, hingga proses pembayaran dan “janji” pengiriman sepeda motor idaman kakak sepupu saya tersebut.

Kakak saya itu, sebut saja A, mengatakan bahwa ia sudah mentransfer uang down payment (DP) sebesar 50% dari total nilai harga yang disepakati, agar sepeda motor tersebut bisa diproses untuk pengiriman melalui ekspedisi kapal laut.

Sehari setelah ia mentransfer uang tersebut, sang penjual masih aktif berkomunikasi dengan A. Bukti-bukti mulai sepeda motor yang sudah di-packing, diantar ke pelabuhan, sampai resi ekspedisi pun sempat dikirimkan ke A. Penjual tersebut memberitahu, sepeda motor tersebut akan tiba paling lambat seminggu sejak resi tersebut dikirim.

Seminggu lebih pun berlalu. A mulai menyadari bahwa sepeda motor yang ia nantikan tak kunjung tiba. Ia pun berusaha mengonfirmasi keterlambatan tersebut kepada penjual.

Alih-alih mendapat informasi, penjual tersebut justru tidak bisa dihubungi. Nomor telepon A diblokir olehnya. Hingga hampir 3 minggu sejak resi tersebut diterima A, sepeda motor impiannya belum juga datang. A pun sadar bahwa ia sudah tertipu.

***

Cerita A ini mungkin bukan baru pertama ini terjadi di Indonesia. Dari cerita-cerita yang pernah saya baca di utas Twitter, banyak pelaku online lainnya yang mengalami hal serupa.

Tindak kriminal berbentuk cyber crime ini bagi saya sudah hampir lazim terjadi di Indonesia. Cyber crime ialah sebuah istilah yang menunjukkan pada aktivitas kejahatan dengan menggunakan perangkat elektronik atau jaringan internet sebagai alat, atau sebagai sasaran, serta, lokasi terjadinya kejahatan.

Kalau berbicara idealnya, tentu tidak seharusnya dan tidaklah mudah masyarakat menjadi korban ulah penjahat siber. Tetapi, di Indonesia, jaminan dan upaya memberi perlindungan masyarakat agar tidak menjadi korban praktik penyalahgunaan penjahat siber sering kali tidak mudah.

Ada sejumlah faktor yang menyebabkan para penjahat siber ini mudah menjalankan aksinya. Salah satunya yakni kurangnya minat masyarakat untuk melakukan cross check mengenai kredibilitas dan tingkat kepercayaan si penjual. Selain itu, rendahnya tingkat literasi juga bisa jadi faktor penunjang.

Ancaman cyber crime di Indonesia merupakan tindak kejahatan di era masyarakat digital yang makin mencemaskan. Dalam laporan State of The Internet tahun 2013 misalnya, Indonesia disebut-sebut sebagai negara dengan urutan kedua dalam kasus cyber crime di dunia. Angka cyber crime di Indonesia di tahun itu dilaporkan mencapai angka 36,6 juta serangan.

LANGKAH PROTEKSI

Data tersebut harus menarik atensi lembaga dan institusi terkait untuk mengkaji dan mengaplikasikan langkah-langkah proteksi. Saya sendiri berasumsi, langkah awal proteksi yang ditempuh adalah dengan memberikan edukasi untuk menggenjot kemampuan literasi masyarakat itu sendiri.

Masyarakat harus dilatih kepekaan dan sikap kritisnya agar tidak membuka e-mail dan tautan yang mencurigakan, tidak mudah terpengaruh oleh iming-iming harga murah yang tidak masuk akal, serta melakukan pemeriksaan kredibilitas dan tingkat kepercayaan seller.

Masyarakat juga harus selalu diingatkan agar tidak mudah membeberkan data pribadi yang sifatnya privasi di platform online, maupun sosial media.

Di sisi lain, Badan Siber Nasional, Kementerian Kominfo, atau Subdit Siber Ditreskrimsus Kepolisian juga bertanggungjawab untuk memberikan proteksi dan menutup celah terjadinya cyber crime.

Di Kaltim sendiri, Ditreskrimsus Polda Kaltim aktif memerangi berbagai jenis kejahatan cyber crime ini. Tercatat, Subdit Siber Ditreskrimsus Polda Kaltim kerap mengungkap kasus hoax yang bersliweran di dunia maya, membongkar sindikat peregistrasi SIM Card seluler illegal di Samarinda, hingga aktif mensosialisasikan upaya pencegahan dini terjadinya tindak kejahatan siber.

Pada akhirnya, semua kembali ke masyarakat. Di era digital, masyarakat yang “melek teknologi” sepatutnya juga diiringi dengan kepekaan pada kejahatan siber yang terus mengancam. [*]

  Artikel
Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *