Artikel

Tak Ada Tempat Bagi Hoax

Oleh: Harry F. Darmawan

DAMPAK perkembangan teknologi informasi bagaikan dua sisi uang koin. Dampak positif sepertinya tak usah saya jelaskan. Saya yakin Anda pasti sudah tahu. Sedangan dampak negatifnya, Perkembangan teknologi informasi membawa kita pada fenomena penggunaan media sosial.

Media sosial sebenarnya tidak buruk. Sangat tidak buruk malah, jika digunakan dengan bijak. Tapi, akan menjadi sangat berbahaya bila digunakan untuk menyebarkan berita hoax atau disinformasi guna memuluskan kepentingan tertentu.

Fenomena hoax sebenarnya bukan hal yang baru. Hoax sudah ada bahkan sejak era perang dunia ke dua, tepatnya pada tahun 1939. Tanggal 1 September di tahun tersebut, pasukan Nazi Jerman menyerbu Polandia — yang menjadi cikal-bakal perang dunia ke dua — yang dilatari oleh berita hoax. Jerman yang saat itu dipimpin oleh Adolf Hitler, beralasan bahwa penyerangan itu terjadi karena Polandia lebih dahulu menginvasi Jerman, sehari sebelumnya.

Padahal, klaim Jerman atas serangan Polandia terhadap mereka itu adalah berita hoax. Seorang Jenderal SS Jerman, Alfred Naujocks alias Hans Muller, memimpin 6 orang perwiranya untuk melakukan penyamaran sebagai pasukan pemberontak Polandia. Mereka menculik seorang petani bernama Franciszek Honiok, menyiksanya, dan membawanya ke stasiun radio Jerman yang berbatasan langsung dengan Polandia, tepatnya di daerah Gliwice.

Dari stasiun radio itu, Naujocks dan rekan-rekannya yang menyamar mengumumkan bahwa tentara Polandia telah menguasai stasiun radio tersebut, dan berencana akan menginvasi daerah Jerman sebagai target berikutnya.

Mendengar berita tersebut, Hitler pun murka dan memerintahkan pasukan “Nazi”-nya untuk segera menyerang Polandia. Perang pun tak terhindarkan.

Mendengar penggalan sejarah ini, tentu akan tercermin betapa berbahayanya penyebaran berita hoax melalui media apapun.

JENIS PENJAJAHAN BARU

Momentum peringatan kemerdekaan Republik Indonesia ke-74 yang jatuh pada 17 Agustus nanti harus benar-benar dimaknai sebagai kemerdekaan dalam arti yang sebenarnya.

Karena beberapa tahun terakhir, saya beranggapan bahwa negeri ini belum sepenuhnya merdeka. Faktor utamanya adalah fenomena hoax ini. Hoax seakan menjelma menjadi satu jenis penjajahan baru yang siap merampas kedaulatan negeri ini kapan saja.

Di tengah rendahnya tingkat baca dan literasi masyarakat kita, ditambah keengganan kita untuk mencari informasi aktual yang valid mengenai sebuah informasi, hoax bisa dengan mudah “menjajah” kita.

Pertanyaannya, dalam bentuk apa hoax “menjajah” kita? Jawabannya adalah keharmonisan, kerukunan, toleransi dan jalinan persaudaraan antar anak bangsa yang tertindas karena hoax!

Kita mungkin sudah paham definisi dari hoaks, yakni berita bohong yang dengan sengaja disebarkan oleh oknum tertentu untuk memuluskan kepentingan pribadi maupun kelompok. Tidak peduli apa dampak dari berita bohong yang disebarkan, asal tujuan awalnya, apakah itu urusan politik maupun kepentingan ekonomi, bisa terwujud.

Penyebarannya pun beragam, dari mulut ke mulut, pesan berantai, maupun media sosial.

Tidak susah menemukan hoaks yang beredar di tengah masyarakat saat ini, apalagi gempuran teknologi yang tidak dibarengi dengan kualitas SDM penggunanya, serta minat baca dan gali informasi yang minim. Hoaks begitu merajalela, hingga kerap menyulut perselisihan di tengah-tengah kehidupan masyarakat. Dan parahnya, masyarakat Indonesia masih banyak yang menerima berita bohong tersebut dan menganggapnya adalah fakta.

Dalam beberapa tahun terakhir, perpecahan hampir saja terjadi di tengah-tengah kehidupan masyarakat Indonesia dikarenakan hoaks yang beredar terkait isu politik bangsa ini. Hanya demi kepentingan kelompok tertentu yang ingin berkuasa, mereka tega menyebar hoaks, menciptakan chaos ditengah-tengah masyarakat kita, agar lebih mudah mencari kambing hitam dari permasalahan yang timbul, dan jalan menuju kekuasaan lebih mudah.

Beruntung, pihak kepolisian mampu bergerak cepat meringkus beberapa penyebar hoaks yang selama ini meresahkan masyarakat. Masih segar di ingatan bagaimana korps seragam cokelat ini berhasil mengungkap komplotan penyebar hoaks seperti Saracen, Portal Piyungan, Majalah Obor Rakyat, serta perseorangan.

Di Kaltim sendiri, Polda Kaltim juga telah beberapa kali berhasil meringkus mereka yang memproduksi dan mendistribusikan hoax dengan motif yang beragam. Terbaru, Polda Kaltim berhasil mengungkap kasus hoax penculikan kotak suara pada 21 Mei 2019 lalu. Informasi hoax itu menyatakan kotak suara Pemilu 2019 di Balikpapan yang saat itu disimpan di salah satu hotel di Balikpapan diculik oleh orang tak dikenal. Keterangan resmi Polda Kaltim menyebut, penggunaan aula hotel tersebut sebagai tempat penyimpanan kotak suara Pemilu sejak 2013 lalu sudah sesuai dengan Peraturan KPU No 4 Tahun 2019 tentang Rekapitulasi Hasil Penghitungan Perolehan Suara dan Penetapan Hasil Pemilihan Umum. Dan, kotak suara yang disimpan di hotel tersebut sebenarnya sama sekali tidak hilang.

Tapi ingat, kinerja baik kepolisian dalam memerangi hoax ini tentu tidak cukup. Kita tidak boleh terlena dengan keberhasilan kepolisian tersebut. Karena hoaks tidak akan pernah mati dan penyebarnya tidak akan pernah berhenti selama masih ada kepentingan yang diusung pihak tertentu. Kita harus tetap waspada dan lebih berani lagi menyuarakan kebenaran dan menyingkirkan hoaks dari kehidupan kita.

MEMERDEKAN DIRI

Semangat kemerdekaan harus terus hidup guna bisa memerdekakan bangsa kita dari hoaks yang kian hari kian merajalela. Momentum 17 Agustus nanti merupakan momentum yang tepat untuk menggelorakan semangat merdeka dari hoax.

Jika saat merebut kemerdekaan para pejuang berikrar bahwa tidak ada lagi penjajahan di bumi Indonesia, maka saat ini kita harus berikrar bahwa tidak ada tempat bagi hoaks di tengah-tengah kehidupan masyarakat Indonesia. Kita juga harus turut serta memberangus hoax yang bisa menghambat kemajuan bangsa.

Kita bisa memulai dengan meningkatkan minat baca kita. Ini supaya kesediaan kita untuk mencari kebenaran dari suatu informasi yang kita terima semakin bertambah. Selain itu, bila kita menemukan berita hoax, kita bisa melaporkan temuan tersebut kepada Tim Satgas Anti Hoax yang dibentuk pemerintah sejak 2017 lalu. [*]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *